Kegiatan Seri Diskusi Buku yang diselenggarakan oleh Inhides (Institute for Human and Ecological Studies) menghadirkan Buku The Will to Improve: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia yang ditulis oleh Tania Murray Li sebagai teks pemantik untuk membaca ulang wacana pembangunan secara kritis. Bertempat di Rak-Rak Store, diskusi ini menjadi ruang perjumpaan antara teks akademik, pengalaman lokal, serta kegelisahan peserta terhadap praktik pembangunan yang berlangsung di sekitar mereka.
Sejak awal, diskusi tidak diposisikan sebagai forum untuk “menguasai” isi buku secara teknis, melainkan sebagai upaya bersama untuk menelusuri bagaimana gagasan-gagasan dalam buku tersebut dapat bekerja, diperdebatkan, dan diuji relevansinya dalam konteks konkret. Dengan demikian, diskusi ini tidak hanya memproduksi pemahaman atas teks, tetapi juga memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang pembangunan sebagai praktik sosial dan politik.
Penulis dan Posisi Teoretis Buku
Diskusi diawali dengan pengenalan terhadap Tania Murray Li sebagai antropolog yang dikenal melalui kontribusinya dalam kajian pembangunan kritis, political ecology, dan etnografi kekuasaan. Melalui penelitian lapangan yang mendalam di Sulawesi Tengah, Li tidak sekadar mendokumentasikan dampak pembangunan, tetapi membongkar cara berpikir, bahasa, dan logika yang memungkinkan pembangunan dijalankan atas nama perbaikan.
Paradigma yang digunakan Li menempatkan pembangunan sebagai praktik pemerintahan (Govermentality), bukan sekadar proyek teknis atau kebijakan ekonomi. Konsep kunci the will to improve “kehendak untuk memperbaiki” dipahami bukan sebagai niat moral individual, melainkan sebagai rasionalitas yang menggerakkan intervensi, perencanaan, dan pengelolaan populasi. Pada diskusi ini, pemantik menegaskan bahwa buku ini tidak menolak pembangunan secara simplistis, tetapi mengajak pembaca untuk mencurigai asumsi-asumsi yang mendasari klaim “perbaikan” itu sendiri.
Pembangunan, dalam bacaan Li, selalu bekerja dengan cara mengidentifikasi kekurangan: masyarakat dianggap tidak produktif, kurang rasional, kurang modern, atau kurang efisien. Dari asumsi inilah berbagai program dirancang, sering kali tanpa mempertanyakan bagaimana kategori “kurang” tersebut diproduksi dan siapa yang diuntungkan olehnya. Ini menekankan bahwa kritik Li bersifat struktural dan epistemic, menyasar cara berpikir pembangunan, bukan semata-mata menilai hasil akhirnya.
Isi Buku dan Ketegangan yang Diungkap
Masuk ke pembahasan isi buku, pemantik mengulas bagaimana Li menunjukkan bahwa pembangunan hampir selalu beroperasi dalam ketegangan antara niat dan dampak. Program-program pembangunan, meskipun dirancang secara rasional dan teknokratis, jarang berjalan sesuai rencana. Alih-alih menciptakan keteraturan, intervensi sering kali memicu konsekuensi tak terduga: konflik atas tanah dan sumber daya, fragmentasi sosial, munculnya bentuk-bentuk resistensi, hingga redefinisi identitas kolektif masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan.
Diskusi menyoroti bahwa bagi Li, kegagalan pembangunan bukan sekadar persoalan implementasi yang kurang sempurna. Kegagalan tersebut justru melekat pada logika pembangunan itu sendiri, yang berupaya mengendalikan kompleksitas sosial melalui kategori, indikator, dan perencanaan. Setiap upaya “memperbaiki” menghasilkan reaksi, adaptasi, dan perlawanan yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Pada diskusi ini, juga muncul kritik terhadap pendekatan pembangunan yang memisahkan persoalan ekonomi, sosial, dan budaya secara artifisial. Buku Li menunjukkan bahwa intervensi ekonomi selalu berdampak pada relasi sosial dan struktur kekuasaan. Dengan demikian, pembangunan tidak dapat dipahami sebagai proses netral, melainkan sebagai arena politik yang penuh dengan negosiasi dan konflik.
Dari Teks ke Konteks
Diskusi mencapai titik penting ketika salah seorang peserta mulai mengaitkan pembahasan dengan konteks lokal yang mereka hadapi, khususnya pembangunan yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) di Gorontalo. Pertanyaan tentang relevansi The Will to Improve dengan proyek tersebut membuka ruang refleksi yang lebih konkret: bagaimana logika pembangunan yang dibongkar Li bekerja dalam proyek infrastruktur berskala besar hari ini?
Dalam diskursus ini, pembangunan yang dilakukan oleh negara dibaca bukan hanya sebagai proyek teknis penyediaan air atau energi, tetapi sebagai praktik yang membawa seperangkat asumsi tentang ruang, masyarakat, dan masa depan. Bahasa pembangunan, kepentingan nasional, kemajuan, manfaat jangka Panjang, sering kali menempatkan masyarakat lokal sebagai objek yang harus menyesuaikan diri. Ini menekankan bahwa pertanyaan kritisnya bukan sekadar soal manfaat atau kerugian, melainkan bagaimana proses pembangunan tersebut mendefinisikan siapa yang dianggap rasional, siapa yang perlu “diperbaiki”, dan suara siapa yang diakui dalam pengambilan keputusan.
Dalam konteks PSN, the will to improve tampak bekerja melalui perencanaan terpusat dan klaim urgensi nasional. Namun, pembahasan ini bukanlah upaya untuk menyederhanakan persoalan menjadi pro atau kontra, tetapi mengajak peserta membaca proyek tersebut sebagai bagian dari logika pembangunan yang lebih luas, logika yang sering kali mengabaikan relasi sosial lokal dan kompleksitas kehidupan masyarakat di lapangan.
Posisi NGO: Antara Taktik dan Logika Pembangunan
Pertanyaan lain yang muncul dalam diskusi ini, berkaitan dengan peran NGO (Non-Government Organization) dalam konteks pembangunan. Diskursus ini menyoroti posisi NGO yang ambigu dan problematis. Di satu sisi, NGO sering kali hadir sebagai aktor yang membuka ruang advokasi, pendampingan masyarakat, atau mitigasi dampak pembangunan. Dalam banyak kasus, mereka menjadi satu-satunya saluran bagi masyarakat untuk menyuarakan kepentingannya.
Namun di sisi lain, diskusi ini juga menggarisbawahi bahwa NGO tidak sepenuhnya berada di luar logika pembangunan yang dikritik oleh Li. Ketergantungan pada pendanaan, tuntutan laporan, indikator keberhasilan, dan bahasa proyek membuat NGO kerap mereproduksi rasionalitas improvement. Mereka dituntut untuk menunjukkan “hasil”, “perubahan”, dan “dampak”, yang sering kali disederhanakan ke dalam angka dan kategori yang dapat diukur.
Diskusi ini tidak jatuh pada penilaian moral terhadap NGO, melainkan membaca mereka sebagai bagian dari medan kekuasaan yang sama. NGO dipahami sebagai aktor yang bergerak dalam ruang sempit antara resistensi dan reproduksi logika pembangunan. Pertanyaan yang mengemuka bukan apakah NGO dapat sepenuhnya keluar dari logika tersebut, tetapi bagaimana melihat posisi mereka, keterbatasan, dan kemungkinan intervensi kritis di dalamnya.
Diskusi sebagai Arena Pembacaan Kolektif
Salah satu aspek penting dari diskusi ini adalah bagaimana ruang tersebut berfungsi sebagai arena pembacaan kolektif. Teks Li tidak diperlakukan sebagai otoritas final, melainkan sebagai pemantik untuk membaca pengalaman sendiri. Diskusi bergerak dari pemaparan konseptual menuju pertukaran pengalaman, kegelisahan, dan pertanyaan yang berakar pada konteks lokal.
Dalam proses ini, batas antara pembicara dan audiens menjadi cair. Diskusi tidak hanya mengalir satu arah, tetapi berkembang melalui dialog dan perbedaan sudut pandang. Ketegangan argumen tidak dihindari, melainkan menjadi bagian dari dinamika diskursus. Justru dalam ketegangan inilah buku Li menemukan relevansinya: sebagai alat untuk mempertanyakan, bukan untuk menutup perdebatan.
Pembangunan sebagai Persoalan yang Terbuka
Diskusi buku The Will to Improve tidak menghasilkan kesimpulan tunggal atau rekomendasi kebijakan yang pasti. Sebaliknya, diskusi ini menegaskan bahwa pembangunan adalah persoalan yang selalu terbuka, penuh ketidakpastian, dan penuh dengan kontestasi. Buku Li dibaca bukan sebagai panduan solusi, melainkan sebagai kritik atas cara berpikir yang terlalu percaya pada perencanaan dan intervensi.
Dalam konteks ini, diskusi menjadi ruang refleksi kritis yang penting. Ia memungkinkan peserta untuk melihat pembangunan bukan sebagai keniscayaan yang harus diterima, tetapi sebagai praktik yang dapat dan perlu dipertanyakan. Apa yang dihadirkan Lu dalam bukunya The Will to Improve berfungsi sebagai undangan untuk terus bertanya: siapa yang mendefinisikan perbaikan, siapa yang diuntungkan, dan konsekuensi apa yang harus ditanggung oleh mereka yang menjadi sasaran pembangunan.
Dengan demikian, diskusi ini tidak hanya memperkaya pemahaman atas sebuah buku, tetapi juga membuka ruang bagi pembacaan ulang realitas pembangunan yang sedang berlangsung, sebuah proses yang tidak pernah selesai dan selalu menuntut kewaspadaan kritis.


Tinggalkan Balasan